Mengenal Bahasa Mongondow


Bahasa Mongondow adalah bahasa asli etnis Mongondow, salah satu dari 4 etnis utama di semenanjung utara pulau Sulawesi. Bahasa Mongondow adalah salah satu bahasa anggota rumpun Borneo-Filipin dari keluarga bahasa Austronesia. Bahasa-bahasa besar yang berkerabat dekat dengan bahasa Mongondow ialah: bahasa Gorontalo, bahasa Tagalog, dan bahasa Cebuano. Bahasa Mongondow merupakan bahasa dengan jumlah penutur peringkat ke-10 terbanyak di pulau Sulawesi. Bahasa Mongondow merupakan murni bahasa lisan. Bahkan semua aspek budaya pengetahuan suku Mongondow dipelihara secara lisan (oral) secara turun temurun tanpa bantuan tulisan sama sekali. Dokumentasi kalimat-kalimat bahasa Mongondow pertama kali muncul dalam bentuk tertulis pada tahun 1855 dalam buku daftar kosa kata (woordenlijst) bahasa-bahasa dari berbagai etnis penduduk di sekitar residensi Manado.
Bahasa Mongondow (9b) merupakan bahasa dengan jumlah penutur peringkat ke-10 terbanyak di pulau Sulawesi. Credit: Robert Blust 2013.


Status
Menurut Ethnologue.com pada tahun 2000 diperkirakan bahasa Mongondow memiliki jumlah penutur sekitar 230.000 jiwa. Bahasa Mongondow dituturkan hanya di daerah bekas swapradja Bola'ang-Mongondow, kecuali di daerah Lolak yang penduduknya berbahasa Lolak. Bahasa Mongondow juga dituturkan sebagai bahasa kedua atau ketiga bagi etnis-etnis asli Bola'ang-Mongondow Raya yang meliputi: etnis Mokapog, Bintauna, dan Bolango. Bahasa Mongondow sekarang berstatus terancam punah (skala 7 "shifting") karena semakin tergeser posisinya oleh bahasa Melayu Manado sebagai bahasa lisan utama etnis Mongondow.
Daerah tutur bahasa Mongondow dan sekitarnya (Gorontalo-Mongondowic, Minahasan, & Sangiric).
Credit: Jason Lobel 2013

Dialek
Usup (1986) mengidentifikasi 2 kelompok besar dialek bahasa Mongondow yaitu:
  1. dialek Passi, dituturkan di lipu-lipu' (kampung-kampung / nagari-nagari) di sekitar bukit Passi sebelah utara dataran Mongondow; dan
  2. dialek Lolayan, dituturkan di lipu-lipu' di dataran Mongondow bagian selatan serta lembah Dumoga.
Masyarakat tiap-tiap lipu' yang didirikan di pesisir (Bola'ang) mewarisi dialek lipu' asalnya di pedalaman (Mongondow).

Fonologi
Vokal

Depan
Tengah
Belakang
i

u
e

o

a


Konsonan
Bunyi konsonan dalam bahasa Mongondow mirip dengan dalam bahasa Indonesia kecuali bunyi /l/ yang dilafalkan dengan 2 macam cara, yakni lateral-alveolar (biasa) dan retrofleks, yaitu /l/ yang dibunyikan dengan cara melipat lidah ke belakang
.
Labial
Alveolar
Palatal
Velar
Glottal
p
t
c*
k
ˀ
b
d
j
g


s


h
m
n
ɲ*
ŋ


l /




r



w

y


Bunyi /c/ dan /ɲ/ hanya ditemukan dalam kata-kata adopsi dari bahasa lain
Suku Kata (Silabe)
Tipikal suku kata bahasa Mongondow terdiri dari konsonan + vokal (KV) atau vokal saja tanpa konsonan pendahulu (V).
Suku kata terakhir umumnya ditutup dengan bunyi konsonan kecuali /c/, /j/, /h/, dan /
ɲ/ (-KVK).
Klaster konsonan (-KK-) tidak boleh terjadi di tengah kata, kecuali 7 macam klaster sengau-letup/desis, yaitu: /-mp-/, /-mb-/, /-nt-/, /-ns-/, /-nd-/, /-ngk-/, dan /-ngg-/. (-N-K-)
Sehingga dapat dirumuskan tipikal pola bunyi kata bahasa Mongondow ialah:
KVN-KVK

Alternasi Lafal
Beberapa kata dalam bahasa Mongondow yang mengandung bunyi atau klaster bunyi tertentu dapat dilafalkan dengan dua atau lebih cara. Bunyi/klaster tersebut antara lain:


r
<=> y <=> ø
Contoh: mopira = mopia, mo'ora' = mo'oya'

yi <=> i
Contoh: yimitak = imitak, moyintok = mointok


t <=> s (dalam imbuhan atau ulangan atas kata dasar berawalan si- saja)
Contoh: tosimpat = sosimpat


-ay- <=> -e-
Contoh: maya' = mea', tayak = teak


-oy+on <=> -e+an
Contoh: patoyon = patean


d <=> j
Contoh: dia' = jia'
 

Perlu diketahui bahwa fenomena alternasi lafal ini hanya khusus untuk kosa kata asli Mongondow, sehingga tidak berlaku untuk kata hasil adopsi dari bahasa lain.


Tata Bahasa
Bahasa Mongondow merupakan bahasa aglutinatif yang mengandalkan pengimbuhan (awalan, sisipan, akhiran, gabungan) dan pengulangan (kata dasar atau suku kata dasar) dalam memodifikasi kata.

Pronomina (Kata Ganti)
Pronomina bahasa Mongondow memiliki bentuk pembeda untuk jumlah Tunggal (Singular), Jamak Umum (Plural), Jamak Dua (Dual), Jamak Tiga (Trial), dan Jamak Berbilang di atas Tiga (Paucal).
Masing-masing Pronomina memiliki tiga bentuk yang berubah sesuai fungsinya dalam kalimat (sesuai model Philippine-type Alignment) yaitu:
Bentuk Nisbat berperilaku seperti Akhiran (sufiks), sedangkan bentuk Oblik umumnya didahului oleh kata sandang ko "ke, kepada, pada"
Berikut daftar Pronomina bahasa Mongondow:

Nominatif
Ergatif-Genitif
Oblik
Bahasa Indonesia
    - Singular
aku'oy
-ku
inako'
aku, saya
ikow
-mu
inimu
kau, kamu, Anda
sia
-(n)ea
inia
dia
    - Plural
kami
-nami
inami
kami
kita
-naton
inaton
kita
moikow
-monimu
imonimu
kalian
mosia
-monia
imonia
mereka
    - Dual
kaminda
-naminda
inaminda
kami berdua
kitada
-natonda
inatonda
kita berdua
kamunda
-namunda
inamunda
kalian berdua
taradua
-naradua
inaradua
mereka berdua
    - Trial
kamintolu
-namintolu
inamintolu
kami bertiga
kitantolu
-natontolu
inatontolu
kita bertiga
kamuntolu
-namuntolu
inamuntolu
kalian bertiga
tara tolu
-nara tolu
inara tolu
mereka bertiga
    - Paucal (4 - ~)
kami X
-nami X
inami X
kami berX
kita X
-naton X
inaton X
kita berX
kamu X
-namu X
inamu X
kalian berX
tara X
-nara X
inara X
mereka berX

Untuk kesopanan atau penghormatan kepada orang lain, kata yang merujuk pada orang kedua (ikow, moikow, kamunda, dsb) atau orang ketiga (sia, mosia, taradua, dsb.) biasanya diganti dengan Nomina Persona untuk menyebut yang bersangkutan.

Nomina (Kata Benda)
Nomina umumnya tidak ditandai untuk pembedaan gender & jumlah. Gender dapat disiratkan dari konteks, sedangkan jumlah disimpulkan dari: konteks, bentuk Verba (kata kerja), bentuk Ajektiva (kata sifat), penggunaan Numera (bilangan), pengulangan kata (dwilingga), pengulangan suku kata (dwipurwa), atau penggunaan kata bantu jamak semisal  mita atau komintan "semua", dll.
Nomina bahasa Mongondow dapat dibagi menjadi dua:
  • Nomina Persona.
Yaitu nama panggilan orang (atau hewan), istilah kekeluargaan/kekerabatan, gelar jabatan/sosial, & julukan. Ciri-cirinya didahului oleh kata sandang: ki (peran nominatif), i (peran ergatif-genitif), dan koi (peran oblik).
  • Nomina Non-Persona.
Yaitu nama segala macam hal yang tidak termasuk Nomina Persona. Ciri-cirinya didahului oleh kata sandang: in (peran ergatif-genitif) dan kon (peran oblik). Nomina Non-Persona dengan peran nominatif tidak didahului kata sandang, tetapi dapat didahului penyambung in apabila berada di akhir kalimat (untuk pola urutan POS atau PAS).

Verba (Kata Kerja)
  • Verba dibentuk dari kata dasar yang diimbuh dengan imbuhan pembentuk Verba.
  • Suatu Verba dapat digolongkan sesuai aspek waktu Perfektif atau Imperfektif tergantung imbuhan apa yang membentuknya. Imbuhan nog-, noko- na-, -in-, -inum-, pino-, sinon-, merupakan contoh imbuhan Verba Perfektif. Imbuhan mog-, moko-, ma-, -on, -um-, po-, ton-, merupakan contoh imbuhan Verba Imperfektif.
  • Verba dapat didahului, ditempeli, atau diikuti oleh golongan-golongan kata bantu (Adverbia, Negasi, & Partikel) untuk menjelaskan aspeknya lebih lanjut. Semisal: koyogot (sedang), bagu (baru), makow (sana), -don (sudah/saja/lah), -pa (masih/pun/lah/silahkan), dsb.
  • Kejamakan subjek, objek, atau agens suatu Verba ditandai dengan penggunaan imbuhan-imbuhan penjamak atas kata dasar Verba semisal moro-, noro-, poro-, pinoro-, toko-, sinoko-, dsb.

Ajektiva (Kata Sifat)
  • Ajektiva dibentuk dari kata dasar yang diimbuh dengan imbuhan pembentuk Ajektiva.
  • Sama seperti Verba, Ajektiva dapat digolongkan sesuai aspek waktu Perfektif atau Imperfektif tergantung imbuhan apa yang membentuknya. Imbuhan mo-, molin-, ko-, merupakan imbuhan Imperfektif. Imbuhan no-, nolin-, kino- merupakan imbuhan Perfektif.
  • Sama seperti Verba, Ajektiva dapat didahului, ditempeli, atau diikuti oleh golongan-golongan kata bantu untuk menjelaskan aspeknya lebih lanjut. Semisal: totok "sangat", tonga' "hanya", -lalat "begitu", dsb.
  • Kejamakan subjek suatu Ajektiva ditandai dengan penggunaan imbuhan-imbuhan penjamak atas kata dasar Ajektiva, yaitu: mongo-, nongo-, kongo-.
  • Ajektiva dapat berfungsi seperti kata bantu untuk Verba. Contohnya: motorong modapot "cepat sampai", mopira ontongon "sedap dipandang".

Negasi (Kata Sangkal)
Negasi digunakan mendahului Verba, Ajektiva, atau Nomina.
  • dia' "tidak, tiada"
  • dia'pa "belum"
  • dia'anda "tidak ada"
  • de'eman "bukan"
  • dika "jangan"
  • na'ay "tidak usah"

Demonstratif (Kata Tunjuk)
Demonstratif sesungguhnya salah satu bentuk Nomina Non-Personal. Ciri-cirinya sama.
  • na'a "ini, sini" (Proksimal)
  • nion "itu, situ" (Medial)
  • tua "itu, sana" (Distal)
  • kon na'a "di sini"
  • kon nion "di situ"
  • kon tua "di sana"
  • nana'a "begini"
  • nani'on "begitu"
  • na'tua "begitu"
  • tana'a "yang ini"
  • tanion "yang itu"
  • tatua "yang itu/sana"

Konjungtor (Kata Hubung & Kata Sambung)
  • bo "dan, lalu, kemudian"
  • andeka "atau"
  • mongo "apakah, bahwa"
  • ta "yang"
  • ta' "tapi"
  • yo "maka"
  • da' "jadi..."
  • aka "jika, bila, apabila"
  • sin "sebab, karena"
  • ba', simba' "supaya, agar"
  • bain "ketika, nanti, apabila"
  • umpa, umpaka, paka "umpama, meskipun, walaupun, biarpun"

Kata Tanya
ine "siapa" (Nomina Personal)
ki ine? “siapa?”
i ine? “oleh/milik siapa?”
koi ine? “kepada siapa?”
onu "apa" (Nomina Non-Personal)
onu? “apa?”
in onu? “oleh apa? apanya?”
kon onu? “pada apa? atas apa?”
onda "mana"
onda? “mana”
kon onda? “di mana?”
maya’ in onda? “mau pergi kemana?”
inta onda? “yang mana?”
na’onda? “bagaimana?”
to'onu "kapan"

tongonu "berapa"

onu "apa" (untuk dasar Verba)
mongonu? "mau apa? ngapain? mengapa?"
nongonu "kenapa? ada apa?"
onuon? "diapakan?"
inonu-mu? “kau apakan?”
pongonu? "untuk apa?"
pongonuan? "untuk diapakan?"

Numera (Bilangan)

1
tobatu'
2
deowa, doyowa, dewa
3
tolu
4
opat
5
lima
6
onom
7
pitu
8
walu
9
siow
10
mopulu'
11
mopulu' bo mita'
12
mopulu' bo deowa
100
togatut
500
lima nogatut
1.000
toribu
5.000
lima noribu
7.500
pitu noribu bo lima nogatut
10.000
toraban
100.000
tomaliong
1.000.000
tojuta
10.000.000
mopulu' nojuta

Kuantifer (Satuan)
Kuantifer digunakan mengikuti Numera serta mendahului Nomina.
  • batu' -buah
  • batol -buah, -biji
  • pongko' -potong
  • putol -penggal
  • pata' -helai
  • botak -belahan
  • simpal -pasang
  • singgay -hari
  • gobi'i -malam
  • dsb.

Urutan Kata
Kalimat afirmatif dalam bahasa Mongondow dapat dibedakan menjadi dua tipe:
  1. tipe Akusatif (subjek (nominatif) sebagai aktor), dan
  2. tipe Ergatif (subjek (nominatif) sebagai obyek).
Dalam kalimat tipe Akusatif tipikal urutan kata adalah Subjek-Predikat-Oblik (SPO) atau dapat berupa Predikat-Oblik-Subjek (POS).
Dalam kalimat tipe Ergatif tipikal urutan kata adalah Predikat-Agens-Subjek (PAS) atau dengan tambahan pemeran Oblik di antara Agens dengan Subjek (PAOS).


Kosa Kata
Sebagian besar kosa kata bahasa Mongondow masih asli terpelihara dari bahasa moyang Austronesia. Banyak kosa kata bahasa Mongondow yang dapat dilacak asalnya hingga bahasa Proto-Austronesian (PAn). Sebagian besar kosa kata dasar bahasa Mongondow merupakan kata bersuku dua (bisilabe).
Interaksi intens etnis Mongondow dengan etnis lain pada masa lampau memang mengakibatkan sejumlah adopsi dan adaptasi kosa kata antar bahasa, namun tidak dominan. Interaksi pertama yaitu dengan etnis Minahasa dan Sangir. Kemudian dengan Ternate, dilanjutkan dengan Belanda dan Spanyol. Adopsi dari bahasa Ternate sebagian besar terkait gelar-gelar kepemerintahan (contoh: kolano, panggulu, kapita laut, sangadi). Sedangkan adopsi dari bahasa-bahasa Eropa umumnya ialah kosa kata nama barang, institusi, atau flora-fauna baru yang didatangkan oleh bangsa Eropa ke Nusantara (contoh: meja, jandela, karpet, sikola, kantor, sikolat, kabalo).
Sepanjang sejarah interaksi tersebut, adopsi kata ke dalam bahasa Mongondow pasti diikuti dengan adaptasi bunyi disesuaikan dengan kaidah bunyi asli bahasa Mongondow. Sehingga kata-kata adopsi tersebut tidak kentara berasal dari bahasa asing.

Pada akhirnya dengan meluasnya penggunaan bahasa Melayu Manado sebagai lingua-franca di semenanjung utara Sulawesi serta penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, mempengaruhi bahasa Mongondow secara signifikan. Bedanya dengan adopsi dari bahasa lain, adopsi dari bahasa Melayu Manado atau bahasa Indonesia akhir-akhir ini tidak disertai adaptasi bunyi. Sehingga kata-kata hasil adopsi tersebut tetap terdengar asing seakan-akan bukan bagian dari tuturan bahasa Mongondow. Adopsi tersebut juga tidak terbatas pada adopsi Nomina melainkan juga pada adopsi kata-kata fungsional (contoh: tapi, sebab, sebelum, sedangkan), Verba (contoh: momanyanyi, flao, praktek), Ajektiva (contoh: merdeka, ruci, parduli) dan frase (contoh: jam tiga bukan jam tolu, mesjid jami' bukan masigi jami', no’ilangslak, mokurangajar, dsb.).

Penulisan
Tulisan berbahasa Mongondow tertua (abad-19) ditulis dengan huruf Latin dengan ejaan Belanda. Sebelumnya di antara para raja, jogugu, atau bangsawan Bola'ang-Mongondow lainnya ada yang bisa baca tulis huruf Latin, namun mereka tidak menggunakannya untuk menulis dalam bahasa Mongondow, melainkan menulis dalam bahasa Melayu Tinggi untuk berkorespondensi dengan penguasa-penguasa negeri tetangga. Adapun non-bangsawan mulai dari pemuka adat hingga rakyat jelata tiada yang merasa memerlukan keterampilan baca tulis karena tradisi lisan yang sangat kuat dipandang sudah mencukupi kebutuhan transmisi informasi.

Ketika Islam masuk ke Bola'ang-Mongondow beberapa abad sebelumnya, huruf Arab Hijaiyyah serta versi Pegon-nya pun sesungguhnya sudah dikenal, tapi tidak pernah untuk menuliskan bahasa Mongondow. Huruf-huruf tersebut hanya untuk menulis dalam bahasa Arab dan bahasa Melayu Tinggi.

Bahasa Mongondow dari awal hingga kini ditulis dengan huruf Latin. Bedanya dahulu dengan ejaan Belanda, sekarang dengan ejaan ala Indonesia.
  • Dalam penulisan bahasa Mongondow modern, terdapat dua macam digraf, yaitu ng untuk melambangkan bunyi /ŋ/; dan ny untuk melambangkan bunyi /ɲ/.
  • Cara pelambangan untuk bunyi /l/ biasa dengan bunyi /l/ retrofleks umumnya tidak dibedakan karena dapat diketahui dari konteks. Namun ada juga yang membedakan cara pelambangan keduanya dengan menggunakan , , atau lh untuk melambangkan /l/ retrofleks.
  • Cara pelambangan bunyi diftong di akhir kata ada yang menggunakan tumpukan bunyi vokal (sehingga: -ai, -au, -oi, -ou, -ui) dan ada juga yang menggunakan huruf w dan y sebagai pengakhir diftong (sehingga: -ay, -aw, -oy, -ow, -uy).
  • Bunyi /ˀ/ umumnya dilambangkan dengan tanda apostrof ('), namun ada juga yang melambangkannya dengan huruf k (terutama bila berada di akhir kata) atau tidak melambangkannya sama sekali (terutama bila berada di tengah kata).
Beragam variasi tersebut muncul dari beragamnya persepsi & pemahaman penutur bahasa Mongondow mengenai sistem fonologi bahasa Mongondow dan pelambangan huruf Latin. Tidak ada standar yang mengaturnya.

Pembahasan lebih detil mengenai topik-topik yang ada dalam overview ini akan dibahas pada post-post selanjutnya.

______________________________
Ray Daapala (6-6-2016)

1 komentar:

  1. Luar biasa utat sangat informatif. Bisa menjadi bahan referensi sosialisasi bahasa mongondow

    BalasHapus

Singog pa kon na'a :)